Matarmaja Melewati Persawahan Ngebruk Malang by Setyo Bagus Adriantama (flickr.com)
|
“Hidup adalah perjalanan yang mengakibatkan keterpisahan demi kemanunggalan.” (Jalaluddin Rumi)
Teman-teman yang setia dengan backpack-nya, sudahkah kalian merasakan nyamannya berkereta? Kereta yang saya maksud adalah kereta api dalam artian bahasa indonesia, entah itu kereta api ekonomi, eksekutif, ekspres, maupun kita secara ilegal numpang di kereta angkut barang, wkwk.
Saya ada sedikit pengalaman tentang perjalanan dengan kereta api, mungkin bisa bermanfaat untuk sampeyan semua. Kereta bisa dikatakan salah satu alat transportasi lawas di Indonesia yang tetap eksis sampai sekarang.
Di era kolonial, kereta api desain lawas banyak difungsinya dalam banyak sektor, mulai dari perkebunan angkut mengangkut hasil perkebunan tebu, kopi, dan kayu hingga perhubungan angkut mengangkut penumpang dari stasiun ke stasiun yang lain, namun saat itu secara penuh masih di tangan Pemerintah Hindia Belanda. Sampeyan bisa melihat sejarah dan perkembangan kereta api Indonesia tepatnya di Lawang Sewu, Kota Semarang. Eh, kalau dengar Lawang sewu jangan melulu dikaitkan dengan hal mistis ya, karenan lawang seru dulunya pusat kereta api swasta pertama di Indonesia.
Nah, langsung aja topik ya teman-teman, sekarang kita fokus ke kereta saat ini. Kalau sampeyan masih kepo sama asal-usul kereta api, silakan mampir sendiri di Lawang Sewu, sekalian jalan-jalan menikmati gurihnya Kota Semarang. Hehe.
Oh iya, tidak menutup kemungkinan setiap daerah punya ketentuan sendiri dalam berkereta, terutama soal harga dari kota ke kota dalam satu provinsi. Sebelumnya, Jalan salah paham jika pengalaman berkereta saya beda dengan sampeyan.
Ceritanya begini, sekitar tahun 2009, seingatku pertama kalinya naik kereta ekomoni, entah di kereta belum diupgrade apa memang desain lawas, saya sampai sekarang belum tahu, kalau ada yang pernah ngalamin, kita mungkin ditakdirkan bersama, khusus cewek. Berdeda dengan bus atau alat transportasi darat lainnya, ingat kereta api ada toiletnya yang sangat menunjang kenyamanan para penumpang yang suka diare, mencret, dan masalah yang membutuhkan peran izin ke bekalang, jadi sangat disarankan banget bagi sampeyan yang punya gejala sering sakit perut untuk memilih kereta api sebagai alternatif saat bepergian.
Tapi semua hampa sehampa-hampanya, perjalananku saat itu menuju ke Kota Surabaya terasa penuh tanda tanya, coba bayangkan dulu! Bayangkan saja jangan sampai merusak kenyamanan sampeyan saat makan dan ngemil. JIka buang air besar dengan toilet “Bolong” pasti poop-nya langsung plung dengan kecepatan masing-masing, ini ni kereta api yang pernah saya naiki sekitar tahun 2009 ya begitu.
- Bau kencing kemana-mana
- Poop langsung jatuh nempel di rel
- Air nggak seberapa banyak
- Bisa lihat rel di bawah kereta api, lewat lubang toilet :v
Kaget juga kan, saat itu saya masih berumur 9 tahun, masih dalam waktu belajar dan bermain, lha ada fenomena yang belum pernah ada sebelumnya, saya merasakan sendiri bagaimana poop di kereta api pada waktu itu.
Wait, beda dulu beda sekarang, saat ini semua berubah drastis setelah ada adalah pembaharuan desain kereta api, mulai dari desain luar hingga dalam. Sekalian, sejak 2013 PT KAI juga membuat kebijakan pembaharuan toilet di kereta api demi kenyamanan penumpang.
Bagaimana desain toiletnya? Nah, sampeyan semua bisa melihatnya di dalam kereta yang bertraportasi saat ini, semua itu adalah desain baru dari toilet kereta api.
Lebih nyaman, bukan? Coba deh kita bayangkan lagi jika sekarang segalanya serba canggih, tiket saja bisa dibeli daring tapi toilet di kereta api masih seperti dulu, kan nggak seimbang antara lahir dan batin, hehe.
Dari sini, semoga kita semua bisa mengambil hal positif dari zaman yang semakin modern, memberlakukan lahir dan batin secara seimbang tanpa adanya deskriminasi, dan menebar manfaat bagi sesama.

Komentar
Posting Komentar